Showing posts with label LIFE - Branded. Show all posts
Showing posts with label LIFE - Branded. Show all posts

Saturday, February 14, 2009

Valentine… Haruskah Keluar?

TIDAKKKKKKKKKK !!!!!!!!!!!!!!!!!!

Saya salah seorang yang cukup skeptis terhadap Valentine, meskipun saya tetap mengucapkan happy Valentine ke semua orang. Pasalnya, jalan-jalan di kota-kota sudah dipenuhi dengna rutinitas hari Sabtu, alias kencan, jalan-jalan, dan sebagainya.

Ditambah lagi orang-orang yang tidak mengenal usia dan jenis kelamin, yang turut pula merayakan Valentine Day. So? Alhasil, lewat jalan saja macet, apalagi yang mau parkir di mall.. Hi…… Bayangin saja sudah ogah.

Bagi saya, everyday is Valentine, tapi mungkin tidak juga bagi banyak orang. Sebenarnya, Valentine’s Day ada di dunia untuk apa? Karena untuk mengingatkan egoisme manusia di dunia ini, dan di suatu hari pada suatu tahun ini, kita harus menggunakan waktu ini untuk spesial buat orang yang kita cintai (Bisa ibu, bisa bapak, bisa kekasih, bisa juga saudara, bisa juga teman).

Nah, namun dengan demikian, banyak juga orang yang tidak sempat melakukannya, kenapa? Tentu saja, tiadk 100% orang di dunia malam ini akan semburat keluar menemui kekasihnya. Pasti ada saja mereka yang tidak dapat merayakan Valentine, turut bersedih buat anda yang tidak bisa merayakannya.

Tetapi, bagi yang merasa Everyday Is Valentine, bukan judul film, pasti tidak akan ada beban batin, bagi yang tidak bisa merayakan Valentine’s Day hari ini.

Harapan saya, semoga semua makhluk berbahagia, seperti kata Mr. Hok, setuju saja dengan Mr. Hok.

Monday, December 22, 2008

Sedikit Demi Sedikit Hilangnya Perbankan Nasional

Anda semua pasti sudah tahu mengenai bank-bank nasional yang satu demi satu hilang dari peredaran namanya, mulai dari Bank Buana,  Bank NISP, Bank Niaga, dan yang paling baru ini sepertinya bank Ekonomi.

Kesemua bank-bank yang telah saya sebutkan dan sudah lama bercokol di hati saya, sekarang telah berubah nama, alias sahamnya telah berpindah tangan, entah sebagian ataupun seluruhnya.

Dalam setiap RUPSLB setelah merger atau akuisisi dilakukan, perubahan nama selalu terjadi, baik sebagian atau seluruh, misalnya:

  1. Bank Buana menjadi UOB Buana
  2. Bank NISP menjadi OCBC NISP
  3. Bank Niaga & Bank Lippo menjadi CIMB Niaga
  4. Bank Ekonomi di akuisisi HSBC

Mengapa sih harus berubah nama? Hal itu sama sekali tidak terlepas dari “BRANDED” yang tertanam di setiap otak manusia Indonesia. Sejak dulu, manusia Indonesia sangatlah branded, tidak menyukai produk dalam negeri, dan cenderung suka dengan nama-nama berbau asing? Tidak percaya?????? Masihkah tidak percaya????

Sebut krisis 1998 lalu, bank apakah yang anda percaya untuk menyimpankan uang anda? Standard Chartered, HSBC, dan bank-bank berbau asing lainnya bukan? Beranikah anda menaruhnya di bank lokal? Tidak berani tentu saja, siapa yang berani selain saya, karena uang saya memang sedikit 4

Bank Niaga yang telah lama berkiprah di dunia perbankan dan cukup terkenal dengan layanan kustodian, telah berubah menjadi CIMB Niaga. Apakah ada hal yang berbeda ketika nama tersebut berubah? 90% manusia Indonesia pasti merasakan bedanya bukan?

Branded, adalah hal yang berbahaya, seperti pedang bermata dua. Tidak semuanya branded itu bagus, ambil contoh saja Lehman Brothers, aduh pahit deh ceritanya. Tidak akan dibahas lebih lanjut. Dan bukan berarti, barang branded tidak ada yang bagus.

Hanya saja, Branded dapat memberikan “ketenangan” anda. Misalkan, celana Bali dengan harga Rp. 20.000, pasti akan anda katakan bagus jika dijual di sebuah toko branded dengan Harga Rp. 250.000 bukan? Dan sebuah barang branded, sebut QuickSilver seharga Rp. 500.000, akan tidak berarti di mata anda atau menjadi “SANGAT MAHAL”, jika dijual di pasar tradisional dengan harga Rp. 400.000 bukan?

No Branded, dalam hal ini saya sangat tertarik dengan judul blog saudara No Branded, yang cukup memberi saya sedikit inspirasi dalam menulis artikel ini. No Branded, but choose the best. The best is not always branded. Mau contoh? Duh ngga habis deh…

Wednesday, December 17, 2008

Nilai Dan Harga Sebuah Uang With Example

Mc Donalds Bundaran Waru (11)

Sebuah wacana yang mungkin menarik bagi anda yang mencermati kehidupan kita sehari-hari.

Mengapa sih, ketika orang bicara makan ketika di mobil, harus berkata McD? Bukan warung kecil di seberang sana?Mc Donalds Bundaran Waru (16) Atau warung tegal di seberang sana?

Mengapa sih, ketika kita lapar di tengah malam, jawabnya delivery McD saja? Bukan masak telur saja?

Mengapa sih, pesta ulang tahun anak-anak bisa di McD? Kenapa bukan di warung sebelah?Mc Donalds Bundaran Waru (17)

Mengapa sih, kalau beli es krim ketika di mall, yang murah meriah, jawabannya McD? Kenapa bukan es Campina di salah satu supermarketnya?

Mengapa sih, kalau makan 5000an, jawabannya McD? Bukan nasi

Mc Donalds Bundaran Waru (18)

goreng bang amat, yang justru lebih ber"isi" daripada seonggok burger sapi (Tidak beriklan)?

Perlu anda ketahui, bahwa sebenarnya otak orang-orang yang berkata demikian adalah orang yang sudah terdoktrin oleh iklan McD. Iklan, adalah salah satu sarana yang dapat merasuki ke otak anda mengenai apa yang diiklankan. OK, Anda tahu McD darimana? Jalanan? Tentu saja, papan iklannya besar. Anda lihat TV, ingin delivery? Tentu saja, McD juga mengiklan di TV.

Tetapi apakah anda pernah tahu, harga sebuah McDonald tidaklah mahal, namun "NILAI"nya sangat-sangat rendah. Kenapa demikian. Nilai dan harga tidaklah sama. Mungkin saja foto saya tidak berharga, namun bernilai bagi saya. Itulah beda dan nilai.

Mc Donalds Bundaran Waru (11)
Apakah karena situasi "dingin dan "sejuk" ini?

Anda mungkin punya selusin celana dalam bekas Erik Clapton (Sengaja typo), yang bagi teman-teman cowok saya ogah sekali meskipun dikasih. Bagi saya? Bernilai sekali, itu celana dalam Erik Clapton !!!!

Nah, harga 2 buah ayam dan seonggok nasi beserta segelas Fanta, menurut saya, tidak lebih dari Rp. 10.000. Namun, paket tersebut dijual dengan harga Rp. 28.000. Kemanakah Rp. 18.000 nya? Ya, ke iklan, pajak iklan, pembuat iklan, serta royalty franchise.

Yang untung siapa? Yang pasti bukan kita la yauw. Saya tidak mengungkit ke-junk-food-an McD, namun, saya melihat saja "NILAI"nya. Pantaskah? Menurut saya tidak pantas.

Seonggok nasi pecel dengan harga Rp. 5.000, jauh lebih pantas daripada dua buah ayam dan seonggok nasi. Jadi, ini adalah masalah nilai, bukan harga. Apabila anda membuang anda untuk barang yang "NILAI"nya rendah, tetapi "HARGA"nya tinggi, berarti anda menghargai keringat anda dengan "NILAI" rendah, karena anda menukar keringat anda dengan barang ber"NILAI" rendah pula.

Saya yakin, disini sangat banyak yang menghargai keringatnya. Wow, sadistic, tapi begitulah nyatanya. Bahkan, bukan GDP yang bertambah jika anda membeli produk luar negeri, melainkan orang luarlah yang menikmati keringat anda. Mereka ongkang-ongkang kaki, anda menukar keringat anda dengan ayam-ayamnya, bukankah demikian kasarnya?

Mc Donalds Bundaran Waru (13)

Memang, jika semua orang seperti apa yang saya katakan, maka McD akan sangat menjamur. Apabila semua orang seperti saya, sangat menghargai "NILAI" uang, maka McDonald dipastikan akan collaps di Indonesia, termasuk karyawan-karyannya kehilangan pekerjaan.

Wacana singkat dari saya, semoga anda bisa lebih menghargai "NILAI" uang, bukan "HARGA" uang.

Thursday, August 28, 2008

Sticker Dapat Menipu

DSCN2425Percayakah anda bahwa Sticker dapat menipu? Anda harus percaya. Hampir semua barang bermerk yang anda beli, anda adalah beli Sticker.

Ketika anda membeli sebuah fashion bermerk di luar negeri, anda membeli sticker merknya, karena beberapa fashion bermerk di luar negeri jelas-jelas mencantumkan Made In Indonesia pada labelnya.

Ketika anda membeli Dell, anda membeli sticker beserta garansinya, karena Dell adalah sebuah produk gado-gado yang pada akhirnya stickernya diberi nama Dell.

Ketika anda membeli mobil Avanza ataupun Xenia, anda membeli sticker Toyota atau Daihatsunya, padahal hanya mesinnya yang bermerk Toyota ataupun Daihatsu.

Ketika anda membeli Handphone, anda membeli stickernya saja, mengingat pabrikan Handphone merk D-one, Taxco, Startech, dll adalah sama, hanya berbeda sticker dan SPG yang cantik. Yang cantik yang menang tentunya.

Ketika anda beli Bakso Pak Ali, anda membeli Sticker Bakso Pak Ali. Percaya saja, ketika Bakso tersebut diganti dengan Bakso Pak “Cleg”, bakso tersebut akan terasa Bakso Pak Ali apabila anda melihat Sticker “Bakso Pak Ali”, walaupun sebenarnya anda memakan Bakso Pak “Cleg”.

Ketika anda membeli Lenovo, Toshiba, Sony, anda akan sangat bangga. Tetapi rasa bangga akan menurun dan lantas jadi kekecewaan ketika produk tersebut berlabel “Made In China”? Mengingat apa yang ada di kepala anda, bahwa “Segala produk buatan China adalah jelek”, dan “Semua produk luar negeri selain China adalah bagus” ?

Pernahkah anda berpikir bahwa Honda Jazz yang selama ini anda idam-idamkan adalah rakitan Indonesia? Dan kenapa kita selalu berpikir bahwa “rakitan Indonesia” adalah jelek?

Begitu banyaklah kita manusia Indonesia yang sangat branded, tanpa memperhatikan kemana larinya uang kita sebelum membeli barang.

Demikian dengan laptop Toshiba di atas. Anda hanyalah melihat sticker Toshiba dan AMD Sempron beserta keyboard yang masih mengkilat, padahal laptop di atas hanyalah sebuah Toshibca Tecra 8000 yang notabene… Pentium 2.

Seberapa brandedkah anda? Pilihlah untuk menghamburkan uang anda sehingga barang yang anda dapat lebih BERHARGA secara VALUE (NILAI), bukan secara PRICE (HARGA).

Wednesday, July 9, 2008

Branded, Apakah Itu?

Menurut survey dari 100 orang, sekitar 90 orang di dunia ini adalah Branded. Apakah branded itu?

Menurut definisi ficforlife.com, branded adalah sebuah perilaku dimana rasa ingin memiliki sebuah barang, didasarkan pada suatu merk tertentu.

Misal !!!!

  • Nasi goreng di restoran Ah Yat lebih enak daripada di emperan/warung Frateran
  • Steak buatan Boncafe selalu paling enak dibandingkan steak yang lebih murah
  • Camera Digital Sony yang lebih mahal selalu lebih baik gambarnya daripada camera digital Canon
  • Prosesor C2D di Vaio lebih baik daripada Prosesor C2D tipe sama di merk Acer

Salah satu iklan yang mengajak kita untuk tidak Branded, dan yang saya ketahui dari TV adalah Pembasmi serangga HIT. “Yang lebih mahal banyak, yang lebih bagus dari HIT…. ?” Nah, jadi apakah branded itu? Branded lebih mengarah pada pembelian merk yang tidak selalu ditunjang dengan perbandingan kualitas harga. Sebagai contoh adalah nasi goreng dan steak tadi.

Pernahkah anda berpikir, bahwa APABILA nasi goreng Ah Yat dan nasi goreng Pak Jo ditukar? Apakah lidah anda akan berkata : “Ah!!! nasig oreng Ah Yat memang tetap paling enak” ????????? Apabila sampai di lidah anda, meskipun nasi Pak Jo terbaring di meja Ah Yat, dan anda berkata bahwa nasi Pak Jo yang berada di meja Ah Yat tetap enak, maka anda BRANDED KELAS KAKAP !!! Atau dapat disebut juga …. Idiot… Mungkin yang membuat enak adalah meja Ah Yat?

Well… Demikian pula dengan pemilihan barang elektronik. Apakah anda akan membeli sticker? stempel? Anda paling tahu jawabannya apakah anda BRANDED.

Apakah anda branded?